pasopati

Wednesday, October 04, 2006

Dan Sekaranglah Waktunya...

Dikisahkan Abu Nawas, seorang bijak dari Baghdad yang sangat terkenal kini, pada masa kelamnya adalah seorang pemabuk dan suka berbuat hal-hal yang tidak baik. Pada sebuah malam di bulan Ramadhan, Abu Nawas sedang berjalan pulang sehabis mabuk-mabukan. Kerena pulang dalam kondisi mabuk, ia tertidur di tengah jalan. Dalam tidurnya ia bermimpi bahwa dirinya berubah menjadi seekor lalat dan hinggap di sepiring kue. Seseorang menegurnya dan berkata : "Wahai Abu Nawas, seperti itulah dirimu dengan dunia. Kehadiranmu di dunia justru membuatnya semakin tidak menarik. Dirimu ibarat seekor lalat yang membuat kotor lingkungan sekitarmu. Tidak ada faedahnya sama sekali." Tersadar dari mimpinya, Abu Nawas pun semenjak itu bertobat dan menjauhi hal-hal haram yang dulu pernah dilakukannya. Walhasil, hingga kini Abu Nawas kita kenang dengan do'a indahnya kepada Allah.

Kehadiran Ramadhan sungguh luar biasa. Membawa daya ubah yang sedemikian besar kepada lingkungan di sekitar kita. Coba perhatikan stasiun-stasiun televisi; berlomba memproduksi episode-episode kultum terbaik. Coba pula perhatikan kegiatan perkantoran atau pun kuliah; mulai acara buka bersama hingga menyantuni anak yatim digelar. Dalam sebuah bus di suatu hari menjelang sore, saya mendengar percakapan antara dua pengamen (satu sebenarnya mungkin bukan pengamen, karena bukan menjual jasa menyanyi, tetapi berpuisi). Yang satu mengamen menggunakan biola, dan tampaknya cukup mahir. Dan satunya berbekal tausiah dan selembar kertas puisi serta berpakaian ala anak muda zaman sekarang. Berikut petikannya:

Pengamen : "Dapet berapa hari ini?"
Penyair : "Ya lumayanlah... Dari mana loe?"
Pengamen: "Dari sono mau ke blok M. Loe sendiri?"
Penyair : "Dari senen. Gw udah kesorean nih, habisnya tadi baca komik dulu di sono. Yaaa, mestinya baca Al-Qur'an sih bulan puasa gini. Cuman, namanya juga napsu, susah dikendalikan."
Pengamen : "Iya nih... Gw tahun ini rencana mau puasa full dulu. Tapi puasanya nahan laper sama haus doang. Bertahap dulu deh... Kalo nahan napsu mungkin tahun depan bisa.."
Penyair : "Iya betul, bertahap aja dulu.. Gw juga pengen numbuhin roja' dan khauf sama Allah.. Ya, antara harap-harap cemas gitu... Susah bener ya?"
Pengamen : "Ya gitu deh...Eh turun yuk.."

Banyak orang berpendapat bahwa agama telah menjadi komoditas bagi kaum kapitalis. Peraturan-peraturan dimodifikasi sedemikian rupa, sehingga bisa memperluas pasar. Euforia hari raya dimanfaatkan untuk mengumbar nafsu konsumsi manusia. Bahkan dalam salah satu slogan pusat perbelanjaan, diceritakan bahwa berbelanja adalah kegiatan paling tepat untuk menghabiskan waktu sebelum berbuka.

Tidak sepenuhnya salah pendapat demikian. Bahkan dalam bulan selain Ramadhan, saya sepakat dengan pendapat seperti itu. Tapi ini Ramadhan... Ada baiknya prasangka akan niat diurungkan terlebih dahulu. Prasangka akan berujung kepada kesinisan. Sementara bulan ini sudah dijanjikan akan penuh dengan barokah. Semua peluang berbuat maksiat seakan-akan menjadi kecil, dan peluang beramal baik kian membesar. Masih tegakah kita menghakimi niat orang, sementara niat itu sudah jelas-jelas dikatakan bukan urusan manusia? Masih relakah waktu kita terbuang percuma untuk berprasangka terhadap orang lain?

Dalam bulan ini, semua amal baik dilipatgandakan pahalanya. Suasana menjadi lebih kondusif untuk beramal. Dapat kita temui di sekitar kita orang-orang berlomba mengejar pahala. Kalau pun kita melihat sesuatu yang kurang baik, insyaAllah doa kita mustajab untuk merubahnya dan jauh lebih baik daripada umpatan dalam hati. Tidakkah kita lihat deru nafas di sekitar kita yang memburu rahmat, maghfiroh dan janji untuk dijauhkan dari api neraka?

Tidak ada momentum paling tepat untuk merubah diri ini, mengevaluasi amalan kita dan meneguhkan hati kita selain di bulan ini. Bulan di mana "keajaiban" terjadi... Bulan di mana subuhnya selalu lebih dari satu shaff, bahkan terkadang penuh. Bulan di mana isya'-nya ditunggu-tunggu oleh jama'ah tarawih. Bulan di mana malamnya penuh dzikir tengah malam sebelum sahur. Dan sekaranglah waktunya untuk berubah menjadi lebih baik. Semoga!

Labels:

2 Comments:

  • Bagus sekali tulisannya..! Ramadhan ini, buatku pribadi, jadi bulan yang penuh teguran. Membaca kisah Abu Nawas di awal tulisanmu bikin aku seperti bercermin saja *ketawa getir* Apapun dan bagaimana pun cara Nya aku seneng banget karena berarti aku masih diperhatikan Dia. Lebih baik 'diomelin' kan, daripada dicuekin?

    By Anonymous Anonymous, at 4:34 AM  

  • Makasih mbak...
    Tersinggung karena sebuah cerita, katanya juga rahmat Allah lho...
    Tul, lebih baik diomelin daripada didiemin =)

    By Blogger agung, at 2:29 AM  

Post a Comment

<< Home