pasopati

Friday, May 05, 2006

Dua Amplitudo Pendulum : Kearifan Lokal dan Pendidikan Modern

Mencermati perkembangan tanah air tercinta akhir-akhir ini sungguh menarik. Meningkatnya status beberapa gunung berapi secara hampir bersamaan dan tumpah-ruahnya air di jalanan akibat hujan deras yang bertubi-tubi ditafsirkan sebagai komunikasi dari alam kepada penghuninya oleh beberapa pihak.
Nun di sebuah pelosok desa, puluhan warga menolak untuk dievakuasi meski pun menurut seismograf dan prakiraan para geologist Merapi sudah akan meletus dalam hitungan hari. Mereka jauh lebih percaya akan feeling dan ”bacaan” kuncen daripada guratan-guratan kurva alat pengukur gempa dan grafik-grafik yang dibuat para ahli.
Di sisi lain, warga yang kerap kedatangan ”tamu” periodik (yang sempat nyantol di iklan ”tanya kenapa?”) bernama BANJIR pun enggan meninggalkan lokasi tempat tinggalnya. Mereka merasa lingkungan tersebut telah menjadi bagian dari hidup mereka. Maka, beberapa persiapan pun dilakukan untuk menyambut sang tamu tadi.
Orang berbicara tentang local wisdom; sebuah kearifan penduduk asli setempat yang diilhami oleh keeratan hubungan mereka dengan lingkungan tempat mereka tinggal. Keeratan ini kerap bermanifestasi dalam penjagaan penduduk terhadap kelestarian alam hingga aktivitas ”nyaris” (kalau tidak boleh dikatakan full) animisme mau pun dinamisme dalam bentuk sesajen dan rekan-rekannya. Amplitudo sisi pertama...
Di ujung sisi lain, atas nama ”sebesar-besar kemakmuran rakyat”, pohon-pohon bertransformasi menjadi kayu-kayu gelondongan, sungai-sungai berubah menjadi kecoklatan (memaksa para fuqaha memberi catatan bahwa air sungai Indonesia kemungkinan besar sudah tidak layak dipergunakan untuk ber-wudhu lagi) akibat limbah MNC-MNC yang terkadang hanya memberi ampas bagi warga sekitarnya. Saya memandangnya sebagai sebuah produk apa yang dinamakan kesalahan paradigma pendidikan modern. Pendidikan yang memberi ”hak absolut” bagi penduduk bumi masa kini untuk mengeksploitasi apa yang ada di sekitarnya. Tentu saja tidak semua pendidik dan paradigma pendidikan seperti itu.
Amplitudo adalah rentang terjauh ayunan pendulum; dan dalam kasus apa pun kondisi ekstrem adalah tidak ideal. Namun, polarisasi kepentingan di kedua amplitudo tadi sangatlah mayoritas...

Wallahu’alambishawwab
(26 April 2006)

Labels:

0 Comments:

Post a Comment

<< Home