pasopati

Thursday, May 04, 2006

Agama dan Budaya

Saya memahami budaya adalah kebiasaan yang telah diwariskan turun-temurun oleh suatu komunitas. Menjadi luhur karena diyakini luhur berdasar kearifan komunitas tersebut; kearifan yang dihasilkan dari interaksi dengan alam dan interaksi dengan komunitas lain.
Di sisi lain, saya memahami agama sebagai sebuah kesatuan perangkat tuntunan kehidupan bagi manusia. Dihasilkan dari kearifan transendental di luar batas kemampuan manusia.
Menarik mengikuti fenomena yang terjadi akhir-akhir ini…

First quote : Di kebanyakan negara Eropa, sastra telah menjelma menjadi dasar hidup masyarakat; mulai menggeser kedudukan agama.
Second quote: Survey yang beberapa bulan lalu dilakukan di UK menunjukkan hal yang PALING dipercayai sekaligus ditakuti masyarakat bule itu adalah hantu (drakula, zombi, dan segala spesiesnya)
Third quote : Playboy tidak akan memunculkan gambar perempuan telanjang di sini. Kami mengikuti budaya kita (Erwin Ananda, Direktur PT.Velvet Silver Media, pemegang lisensi Playboy Indonesia)

Ketika logika perasaan bermain dalam menentukan benar-salah, maka kebenaran menjadi sangat relatif; bahkan relatif dalam bingkai relung-relung tiap individu. Ketika logika rasio bermain dalam menentukan benar-salah, maka lingkaran kerelatifan membesar. Tapi tetap saja rasio sekelompok komunitas memiliki perbedaan dengan komunitas lain. Lantas parameter benar yang mana yang harus diikuti?
Hmm.. Saya percaya akan kebenaran absolut. Dan kebenaran absolut datangnya bukan dari makhluk yang sering khilaf dan lupa. Ketika kebenaran itu dipaksakan oleh akal dan perasaan, maka selamat datang di dunia roaming....

Wallahu’alambishawwab
(7 April 2006)

Labels:

1 Comments:

  • Jangan percaya sama Erwin Ananda. Tukang boong. Banyak utangnya lagi.

    By Anonymous Anonymous, at 8:20 AM  

Post a Comment

<< Home