pasopati

Tuesday, May 30, 2006

Intervensi Negatif Negara?



Opini Kompas 16 Mei 2006 dengan tajuk Gerak Bandul Intervensi Negara mengatakan bahwa roh negara adalah regulator. Hal itu diimplementasikan dalam intervensi negara yang mengatur kehidupan masyarakatnya. Intervensi dikatakan negatif bila negara mengeluarkan berbagai regulasi yang membatasi hak-hak sipil dan politik warganya, sehingga dapat menghasilkan konstruksi berpikir bahwa negara merupakan pemegang otoritas dan wibawa moral. Intervensi dikatakan positif bila negara bersedia menjalankan kewajibannya untuk menyediakan lapangan kerja dan kehidupan yang layak bagi warganya.

Dalam prakteknya ada tiga pola :
1) pola pengurangan intervensi negatif, tetapi tidak peduli, bahkan menghilangkan intervensi positif negara. Dicontohkan pada negara2 liberal dengan terciptanya kaum2 borjuis dan kapitalis.
2) pola penguatan intervensi positif negara sekaligus penguatan intervensi negatifnya. Dicontohkan pada negara2 komunis.
3) pola pengurangan intervensi positif dan penguatan intervensi negatif. Pola semacam ini muncul dalam kecenderungan amat kuat pada sistem politik yang otoriter.

Pada kesimpulan, Opini merefleksikan pada kejadian seputar kontroversi RUU APP (Anti Pornografi dan Pornoaksi) dan rencana revisi UU Ketenagakerjaan. RUU APP dipandang sebagai menguatnya intervensi negatif negara karena mengurangi kebebasan individual dari warga. Sementara revisi UU Ketenagakerjaan dipandang sebagai melemahnya intervensi positif negara karena tidak memberi rasa aman ekonomi kepada buruh.

Saya sependapat dengan revisi UU Ketenagakerjaan sebagai pengurangan intervensi positif. Buruh, sebagai pihak yang lebih lemah dibanding pengusaha, memang harus mendapatkan jaminan. Dan penjamin itu adalah negara. Negara menjamin agar batas minimum upah terjaga dalam kondisi layak, uang pesangon tetap diberikan dan perlindungan buruh dari outsourcing.

Namun, RUU APP sebagai penguatan intervensi negatif negara agaknya kurang tepat. Memang kebebasan warga sebagai individu lebih dibatasi dengan penerapan RUU ini. Memang negara mulai memasuki wilayah moral yang selama ini dianggap menjadi domain individu. Dan itu semua, menurut saya bukan tanpa sebab. Kebebasan individu dalam negara Indonesia jelas bukan kebebasan tanpa batas. Dalam salah satu butir2 sila Pancasila, dikatakan bahwa kebebasan itu adalah kebebasan yang bertanggungjawab. Kebebasan yang dibatasi oleh hak-hak individu lainnya. RUU APP muncul karena maraknya kebebasan individu yang berlebihan yang berujung pada pelanggaran hak asasi individu lainnya. Sebagai contoh; penerbit-penerbit majalah atau pun tabloid dengan foto2 syur bebas bertebaran di pinggir2 jalan. Ini jelas mempersempit kebebasan orang tua dalam mengajak putra-putrinya berjalan-jalan santai. Pikiran para orangtua dipenuhi pertanyaan : bagaimana bila anak2 saya melihat gambar2 syur itu? apa yang harus saya jelaskan??
Contoh lainnya : penyanyi maupun pemain film secara berlebihan menampilkan guyonan, "goyangan" ataupun adegan2 "17 tahun ke atas" dengan leluasa di televisi; bahkan kini jam tayang bukan hanya tengah malam, namun juga petang. Sudah banyak reportase media menceritakan bagaiman perbuatan pelanggaran hak asasi individu lainnya (misal : perkosaan, pelecehan seksual, dll) bermula dari tontonan-tontonan seperti itu.

Bila menggunakan variabel "kebebasan individu" sebagai ukuran intervensi negatif, maka pendapat tentang RUU APP bisa berbeda-beda. Menurut penerbit2 majalah syur, penyanyi maupun pemain film, mungkin itu adalah pengekangan kebebasan individu. Tapi menurut korban perkosaan, orang-orang tua bisa jadi RUU APP adalah alat untuk memfasilitasi agar mereka dapat menikmati kebebasan dari perkosaan, kebebasan berjalan-jalan santai dan kebebasan memindahkan remote TV ke channel apa pun.

Pertanyaannya adalah : kebebasan individu mana yang dijadikan parameter? Dalam opini saya, yang harus dilindungi adalah kebebasan individu yang tidak mengurangi kebebasan individu lainnya. Saya pikir penerbit2 dapat beralih ke media lain tanpa harus mengalami kerugian berarti. Penyanyi mau pun pemain film dapat menyanyikan lagu2 lain tanpa "goyangan2" (bukankah yang dinikmati dari nyanyian adalah olah vokal?) dan memilih tema2 film lain yang lebih baik tapa harus mengalami kerugian signifikan. Namun, bagaimana jika kebebasan penerbit, penyanyi dan pemain film tadi dipaksakan? Apakah wanita dan anak2 yang menjadi korban perkosaan dapat menghidari dampak negatifnya?? Apakah ayah-ibu dapat bebas berjalan-jalan di trotoar tanpa harus memikirkan foto2 pada tabloid pinggir jalan yang dilihat oleh buah hatinya?

Wallahu'alambishawwab

Labels:

Monday, May 29, 2006

Setelah 10 tahun

Tidak ada yang berubah, setelah 10 tahun lalu terakhir kali menginjakkan kaki di kota itu.

Udara yang sejuk menyapa setiap pendatang; lebih sejuk dari Jakarta dan Bogor, mungkin sedikit di bawah Bandung. Warna hijau yang cukup banyak ditemui dalam taman-taman sepanjang jalan menyisakan tanda : Malang didesain sebagai salah satu dari dua kota taman (Garden Town) pada era kolonial Belanda.

Jalan Ijen dengan perumahan mewahnya; di ujung jalan masih berdiri tegak Plaza Dieng, yang kini sepertinya harus bersaing dengan Malang Town Square (Matos) -- pusat perbelanjaan baru yang kabarnya sempat menjadi kontroversi. Fenomena pembangunan mall-mall telah memasuki kota Malang. Di balik Plaza Dieng, ada jalan masuk ke Kelurahan Pisang Candi; ke dalam lagi, maka saya menemukan rumah eyang tercinta.

Sekali lagi, tidak ada perubahan signifikan dengan rumah itu. Rumah dua lantai dengan ruangan cukup besar. Voight (lubang udara) yang lebih luas dari luas lantai kedua masih menjadi ciri khas. Foto-foto keluarga besar masih terpampang di sana; kursi goyang favorit juga masih ada di beranda belakang, menemani pikiran yang melayang untuk bernostalgia. Halaman belakang saja yang sekarang sudah hilang, bersamaan dengan matinya ayam jago yang biasa bertengger.

Di seberang rumah, tanah kosong masih belum digarap oleh pemiliknya. Udara seputaran kompleks masih sangat sejuk. Jalanan kompleks juga relatif sepi; berbeda dengan Jakarta, jalanan kompleksnya penuh dengan mobil di kiri-kanan jalan. Mau beli oleh-oleh atau sekedar mengisi perut kosong? Toko oleh-oleh penganan khas Malang dapat dengan mudah ditemui. Mulai dari perut ayam (nama sejenis kue, tapi bukan perut ayam dalam arti harfiah), cwimie, nasi pecel, nasi rawon, gepuk hingga lumpia basah/goreng tersedia. Keluarga kerap tergoda memborong sebagai oleh-oleh untuk kerabat. Di malam hari yang dingin butuh teman? Jangan khawatir, pedagang angsle (sejenis wedang ronde di Jawa Barat) keliling akan menyapa rumah demi rumah. Berjalan sedikit ke atas di waktu pagi, maka susu khas koperasi setempat dengan aneka rasa dapat dinikmati.

Jalanan kota relatif bersih. Mobil dapat dikatakan lebih sedikit dibanding Bandung, Jakarta atau Bogor. Sepeda dan motor mendominasi. Malang sedang berbenah; Rencana Pembangunan Jangka Panjang/RPJP (rencana pembangunan untuk jangka waktu 20 tahun) akan segera disusun. Namun, hingga kini Malang masih menggoda saya untuk menjadikannya tempat menetap.

Hmm.. Akankah cinta saya pada Bandung tergeser?

Wallahu'alambishawwab

Labels:

Thursday, May 25, 2006

Indonesiaku...

Ke mana kita dibawa oleh nasib, ke mana kita dibuang oleh yang berkuasa (penguasa, pemerintah), tiap-tiap bidang tanah dalam Indonesia, itulah juga tanah air kita.
Teluk yang molek dan telaga yang permai, gunung yang tinggi dan lurah yang dalam, rimba belantara dan hutan yang gelap, ataupun pulau yang sunyi serta pun padang yang lengang, semua itu bagian Tanah Air yang sama kita cintai.
Semuanya itu tidak boleh asing bagi kita. Dan kita bersedia menempuhnya satu per satu, di mana perlu.
Di atas segala lapangan Tanah Air aku hidup, aku gembira.
Dan di mana kakiku menginjak bumi Indonesia, di sanalah tumbuh bibit cita-cita yang tersimpan dalam dadaku.
(Hatta, 20 Januari 1934)

Labels:

Monday, May 15, 2006

Re : Dicari : TELADAN!

Pukul 16.55 di sebuah halte di pusat kota Jakarta,

Tukang Ojeg A : Mau ke mana mas?

AD : Mau pulang bang. Biasa, nunggu 213..

Tukang Ojeg B : Pulang ke mane?

AD : Bintaro bang.

Tukang Ojeg B : Wah jauh bener, habis naek bus naek apa lagi?

AD : Naek kereta.

Tukang Ojeg B : Kereta?? Di mana?

AD : Biasa, Dukuh Atas..

Tukang Ojeg B : Wah, repot benerr. Udah sekalian aje sama saya. Ntar turun di Pasar Ciputat, rumah saya sekalian di sana..

AD : Wah engga bang, makasih (sambil bergumam dalam hati : "Naik ojeg mah, mahal bener")
Kok tumben mangkal di sini bang?

Tukang Ojeg A : Iye, habisnya ujan deres. Kali2 di sini ada penumpang. Biasa mah di sono.. Kalo saya rumah di deket Tanag Abang.

AD : Ujan deres nih.. Petir lagi. Tadi juga ada gempa tuh bang.

Tukang Ojeg A&B : Ah, yang bener?? Kok ga kerasa ya? Mungkin karena kite pade di bawah ya...

Tukang Ojeg A : Ngomong2 mas udah lame kerja di sono?

AD : Belum. Baru juga sebulan jalan..


15 menit lebih berlalu..


Tukang Ojeg B : Wah lama juga tuh bis..

AD : Iya nih..

Tukang Ojeg B : Mas, udah bareng saya aje.. Sekalian saya mau pulang ke Ciputat. Mau ke Dukuh kan? kelewat nih..

Tukang Ojeg A : Iya mas, kita juga udah pada mau balik

AD : Wah, makasih bang. Saya nunggu aja.

Tukang Ojeg A : Udah ikut aje, kaga usah bayar

AD : Wah yang bener bang? (Setengah engga percaya..Btw, nasihat orang tua dan teman2 untuk jangan menerima bantuan orang yang tidak dikenal telah membuat saya jatuh ke kondisi su'udzan; Astaghfirullah...)

Tukang Ojeg B : Iye, udah yuk. Sudirman kan?

AD : Ya udah deh bang.. (Dalam hati : "Ya udah deh.. Kayanya nih orang beneran. Lagian kan motor ini, kalo ada apa2 loncat aja..")
Helmnya kaga ada bang??

Tukang Ojeg B : Ade nih..


Jadilah saya menumpang ojeg B menuju stasiun Dukuh Atas. Tukang Ojeg A berpisah dengan temannya, Tukang Ojeg B. Di perjalanan :


AD : Bener ga ngerepotin nih bang?

Tukang Ojeg B : Kaga , nyantai aja.. Namanye hidup kudu tolong-menolong..

AD : (Dalam hati :"Subhanallah.. ) Asli jakarta bang?

Tukang Ojeg B : Iye, dari kecil di Ciputat

AD : Sama keluarga di sana?

Tukang Ojeg B : Iye, tapi saya belum nikah. Sudirman ya?

AD : Iya bang. Jumat biasa macet nih.. (Sambil bertekad dalam hati : "Ini uang untuk ongkos bus mending dikasih abang ini aja. Lumayan buat nambah2 bensin")

Tukang Ojeg B : Ya iyalah... Di sini?

AD : Iya bang...Makasih banyak bang! Ini ga seberapa, lumayan buat bensin..

Tukang Ojeg B : Wah udah kaga usah, simpen aja

AD : Wah jadi ga enak. Makasih banyak ya bang.. Ngomong2 belum kenalan, namanya siapa bang? Saya agung..

Tukang Ojeg B : Nama dedi..

AD : Makasih bang! Ati2 di jalan..

Tukang Ojeg B : Sip, met jumpa!


NB : Ternyata teladan itu ada dan dekat. Semoga keberkahan, kemudahan dan hidayah Allah SWT. senantiasa bersama Bang Dedi dan rekannya. Amiin.

Labels:

Tuesday, May 09, 2006

Resistensi Akut

Salah satu bentuk majas atau gaya bahasa yang sering dipergunakan orang adalah majas repetisi. Gaya bahasa pengulangan terhadap sebuah kata atau kalimat yang menyiratkan makna yang ingin lebih ditekankan oleh orang tersebut. Dengan pengulangan, maka pembaca atau pendengar akan lebih awas terhadap kata mau pun kalimat yang ingin ditekankan oleh sang penulis atau pembawa berita.
Pun sama dengan perilaku hidup manusia sehari-hari. Kegiatan yang berulang-ulang dilakukan akan menimbulkan keterbiasaan dalam diri seseorang. Misalnya, saya biasa menaiki bus umum dari rumah ke kantor. Pada awalnya, mungkin hal yang aneh karena memang saya teramat jarang menaiki bus umum. Namun kelamaan, perasaan aneh tersebut hilang dan berganti perasaan biasa-biasa saja. Lain contoh, dulu ketika pertama masuk ITB, saya merasakan ekspektasi diri saya dan orang lain sangat tinggi. Tapi setelah dua, tiga tahun kuliah saya berjalan, ya biasa-biasa saja.
Pengulangan, karena sifatnya yang membuat keterbiasaan, juga berpotensi menimbulkan resistensi atau daya tahan. Hal ini nampak jelas dalam kasus inovasi pestisida. Pestisida, atau obat pembasmi hama, memiliki umur yang relatif tidak terlalu lama dan harus terus diperbaharui. Hama memiliki resistensi karena sudah terbiasa disemprot dengan pestisida jenis tertentu. Hama tersebut berevolusi menghasilkan zat-zat kimiawi yang mampu membendung zat-zat racun dari pestisida tadi. Tentu saja awalnya hama-hama tersebut tidak mampu melawan pestisida dan mati. Namun setelah beberapa lama, keturunannya mampu berevolusi.
Keterbiasaan, dan dilanjutkan dengan resistensi, adalah beberapa hasil dari pengulangan. Perbuatan yang dilakukan berulang-ulang pun membawa dampak bagi perilaku kehidupan manusia sehari-hari. Bagaimana bila perbuatan yang diulang-ulang itu buruk? Hasilnya perasaan biasa-biasa saja ketika melakukan hal buruk tersebut dan resistensi yang timbul adalah resistensi terhadap nilai-nilai moral yang ideal. Kebiasaan melakukan hal yang buruk telah membunuh "zat-zat kimiawi" yang akrab dengan nilai-nilai moral ideal. Bagaimana bila perbuatan yang diulang-ulang itu baik? Hasilnya adalah perasaan biasa-biasa saja ketika melakukan suatu hal mulia, bahkan hal tersebut dapat menjadi kebiasaannya. Resistensi yang timbul adalah resistensi terhadap nilai-nilai moral yang buruk. Hal ini disebabkan kebiasaan telah menghancurkan "zat-zat kimiawi" yang akrab dengan nilai-nilai moral yang buruk.
Dalam interaksi sosial manusia, lingkungan sekitarnyalah yang berperan menyajikan pilihan-pilihan perbuatan. Seseorang dapat memilih perbuatan baik atau perbuatan buruk yang ia mau lakukan secara berulang. Dan sayangnya, di banyak lingkungan di negeri tercinta ini, sajian pilihan begitu terbatas. Mayoritas sajian adalah perbuatan-perbuatan yang tidak bisa dikatakan baik. Dan masyarakat harus menerima itu (live with it).
Mulai dari korupsi berkelanjutan (sustainability corruption) lembaga peradilan hingga baku-hantam di gedung dewan yang terhormat. Mulai dari sajian pronografi yang meluas hingga kemunafikan yang jelas terekspos dalam tayangan rally bernaman infotainment. Paket pilihan dalam perbuatan-perbuatan baik nyaris tidak ada. Atau, kalau pun ada, maka kebanyakan panggung media cenderung enggan memberikan ruang. Hal ini menyebabkan timbulnya resistensi akut masyarakat terhadap nilai-nilai kebaikan. Melakukan hal baik adalah sebuah keanehan. Melakukan hal buruk? Lho udah biasa tho?! Satu-satunya jalan menghancurkan resistensi akut ini adalah dengan memperbaiki diri dan lantas bergerak mengubah paradigma masyarakat. Bagaimana caranya? Tentu setiap diri, yang merasa memiliki beban tanggung jawab ini punya, jawaban masing-masing...
Wallahu'alambishawwab

Labels:

Monday, May 08, 2006

Dicari : Teladan!

Dalam sebuah ruang kelas pada medio tahun 1999, saya terhenyak mendengar salah seorang guru saya berkata :"Bangsa Indonesia adalah (maaf) monyet terbesar yang ada di dunia..." Ungkapan itu berkaitan dengan kebiasaan sebagian warga Indonesia untuk selalu meniru bulat-bulat kebudayaan maupun kebiasaan tanpa telaah kritis terhadap dampak positif maupun negatif kebiasaan/kebudayaan tersebut.
Saya setengah sepakat dan tidak sepakat dengan ungkapan tersebut. Sepakat bukan dalam ungkapan atau bahasa yang digunakan. Namun sepakat dengan realitas yang terjadi di lapangan. Memang banyak kebiasaan yang langsung kita tiru tanpa terlebih dulu meninjau baik-buruknya kebiasaan itu. Tidak sepakat karena kebiasaan meniru bukan hanya milik bangsa Indonesia. Kebiasaan meniru adalah tabiat manusia semenjak ia dilahirkan. Ocehan bayi, celoteh anak kecil dan sikap remaja adalah buah dari peniruan lingkungan yang ada di sekitarnya.
Baiklah, saya sepakat dengan prosedur peniruan (asimilasi) yang terlebih dahulu menggunakan analisis dampak baik-buruk. Hanya saja, prasyarat untuk melakukan proses asimilasi tersebut cukup berat dalam pandangan saya. Tingkat kematangan dan pendidikan warga harus berada pada taraf yang cukup baik. Dan di negeri ini?? Hmm.. saya agak pesimis menimbang permintaan anggaran pendidikan 20% baruuu saja diluluskan oleh Mahkamah Konstitusi (MK) dalam proses uji materiil.
Lantas? Sambil proses menuju tercapainya prasyarat, maka hal yang paling mungkin dilakukan adalah memperbanyak pribadi-pribadi yang mampu memberikan bentuk bagus/baik untuk ditiru masyarakat. Teladan-teladan perlu dimunculkan untuk mengakomodasi kebutuhan peniruan dari warga masyarakat. Kebutuhan akan adanya sosok yang dapat memberikan pedoman baik-buruk tanpa perlu diberi cap beragam prasangka. Dan sosok ini membutuhkan konsistensi yang sangat... Sosok ini membutuhkan jaringan yang luas untuk mengakomodir pendapatnya di berbagai elemen masyarakat. Dan tentu saja sosok ini harus mampu meminimalisir celah bagi prasangka-prasangka buruk yang amat mudah berkembang dalam masyarakat.
Hmm, sepertinya banyak sosok seperti itu.. Yang dibutuhkan adalah panggung media yang dapat menginformasikannya secara jujur dan berimbang. Agar kelak sosok tersebut menjadi pelita-pelita kecil yang dapat menuntun mayoritas warga menyongsong fajar harapan di negeri ini.

Wallahu'alambishawwab

Labels:

Negeri Kangguru

Menengok kembali hubungan Indonesia dengan Australia adalah topik yang hangat akhir-akhir ini.
Satu-satunya negara benua yang nenek moyangnya sebagian berasal dari tawanan Inggris itu rupanya senang sekali membuat sensasi (dan parahnya, DPR kita pun ikutan bikin sensasi dengan kunjungan tidak jelas ke Australia). Mulai dari rutinnya travel warning, isu terorisme, hingga yang paling akhir suaka untuk warga Papua.
Dulu (bukan bermaksud membandingkan, dan lagipula saya cuma denger kerena belum lahir) Bung Karno pernah berteriak lantang ”Go hell with your aid!”. Ketika Orba, pemimpin2 negara tetangga seperti Singapura selalu berdiri setengah terbungkuk menyambut Bung (Pak?) Harto.
Sekarang, Pak SBY menarik duta besar Indonesia untuk Australia (saja?) Di sisi lain, Gabungan Importir Indonesia justru lebih berani dengan menutup akses bagi semua barang impor dari Australia...
Semoga saya tidak sedang terbuai romantisme masa lalu dan nasionalisme berlebihan tanpa memandang kepentingan yang jauh lebih besar... Tapi, kalau Australia saja berani menekan Indonesia untuk kasus Imam Samudera cs, kenapa kita tidak? Padahal jelas hak kedaulatan kita dilanggar!! Yang jelas dan kongkritnya, saya akan mengubah haluan studi S2 saya (saja??). Semoga bisa berbuat lebih, karena saya masih cinta Indonesia..

Wallahu’alambishawwab
(7 April 2006)

Labels:

Friday, May 05, 2006

Duhai Diri

Engkau siap dengan sebuah kail,
Tak lupa sekaleng umpan berisi cacing campur jangkrik,
Serantang bekal sebagai teman di masa penantian

Jelas tergambar di benak,
Senyap ketenangan air,
Bercampur cicit burung dan hijau panorama,
Ikan besar, ikan besar, ikan besar!

Menit demi menit penuh penantian,
Tak sadar bekal pun telah mulai habis,
Umpan tiada berganti ikan besar, hanya ikan-ikan kecil...

Senyap yang damai berubah menjadi kejemuan,
Cicit burung ibarat cacian penuh penghinaan,
Hijau panorama? Ke mana mereka? Bah, hilang sudah!
Umpatan demi umpatan...
Keluh kesah dan serapah
Tak kunjung jua menjadikan keadaan lebih baik..

Duhai diri...
Tak cukupkah penuhnya bekal sebagai temanmu?
Tak cukupkah riangnya alam menyapa menjadi pelipur laramu?
Tak cukupkah ikan-ikan yang rela menghampirimu sebagai hasil?
Tak cukupkah nafasmu, denyut nadimu, penglihatanmu hari ini sebagai bukti...
Bahwa engkau tiada pernah berpagi dalam keadaan merugi??

Duhai diri...
Kala angan-angan belum tergapai,
Kala cita belum terjadi,

Cukuplah adanya engkau sebagai bukti...
Sediakanlah relung di hatimu untuk bersyukur !

Labels:

Merumuskan Konsep GENTLEMAN

Ketika berbicara kesetaraan gender, maka ada beberapa hal yang kerap mengusik pikiran saya. Secara kodrati, pria dan wanita berbeda (dan yang ada di antara dua itu adalah kesalahan yang harus diluruskan dengan penuh kesabaran). Fisik dan komprehensifitas pemikiran ala pria bergabung dengan emosi dan kelembutan ala wanita. Konsep, yang dipahami oleh bangsa Cina sebagai yin-yang, kerjasama yang ideal dan sempurna.
Memahami perbedaan seperti itu, jelas ada pembagian tugas dalam kehidupan sehari-hari…
Saya tidak bermaksud menguraikan secara panjang lebar pembagian peran dan tugas keseharian antar gender itu. Saya hanya mencoba menyatakan pemahaman saya akan konsep Gentleman yang seringkali dimanifestasikan dalam kalimat : ”Ladies first...”
Bukannya ndak setuju dengan perkataan ”ladies first...”, bukan pula ndak mengakui kehormatan wanita yang acapkali melahirkan putra-putra yang mampu merubah zaman..
Cuma, ya mau gimana ”ladies first...” jika dalam beberapa kondisi memang tidak memungkinkan.. Kondisi apa? Kondisi turun angkot misalnya... ”ladies first...” memiliki konsekuensi saya akan dengan leluasa melihat bagian belakang (maaf) wanita yang akan turun sebelum saya, walau secara bersamaan yang bersangkutan berusaha menutupi bagian belakang pakaiannya dengan memegang ujung bajunya.
Kondisi berjalan di belakang wanita untuk waktu lama adalah contoh lain. Sejauh pengamatan saya, banyak kaum pria yang amat enjoy berjalan di belakang kaum wanita, tiada lain dengan maksud mengagumi bagian (maaf lagi...) belakang wanita. ”ladies first...” kembali bermakna ambigu. Mana yang lebih dihormati : mereka yang mengendap-endap di belakang kaum hawa sambil menikmati bagian yang di atas tadi (saya enggan mengulang maaf lagi...) dan bersembunyi di balik kata ”ladies first...” atau mereka yang berusaha menjaga kehormatannya dan wanita di depannya dengan berusaha berjalan mendahuluinya (layaknya Nabi Musa as.)?
Pun di sisi lain, ”ladies first...” dapat bermakna penghormatan di mana contohnya ada pada kasus memberi tempat duduk pada wanita di kendaraan umum (seperti bus-bus yang seringkali overload dan kereta-kereta yang penuh sesak). Sayangnya, hal ini jarang saya lihat.
ladies first...” bermakna penghormatan bila setiap acara yang melibatkan pria dan wanita senantiasa diadakan dengan mempertimbangkan faktor keselamatan wanita dalam rangka perbedaan kodratinya dengan pria.
ladies first...”; sebuah rangkaian kata yang seringkali disalahartikan, bukan hanya oleh kaum pria, bahkan kaum wanita sekali pun...

Wallahu’alambishawwab
(26 April 2006)

Labels:

Dua Amplitudo Pendulum : Kearifan Lokal dan Pendidikan Modern

Mencermati perkembangan tanah air tercinta akhir-akhir ini sungguh menarik. Meningkatnya status beberapa gunung berapi secara hampir bersamaan dan tumpah-ruahnya air di jalanan akibat hujan deras yang bertubi-tubi ditafsirkan sebagai komunikasi dari alam kepada penghuninya oleh beberapa pihak.
Nun di sebuah pelosok desa, puluhan warga menolak untuk dievakuasi meski pun menurut seismograf dan prakiraan para geologist Merapi sudah akan meletus dalam hitungan hari. Mereka jauh lebih percaya akan feeling dan ”bacaan” kuncen daripada guratan-guratan kurva alat pengukur gempa dan grafik-grafik yang dibuat para ahli.
Di sisi lain, warga yang kerap kedatangan ”tamu” periodik (yang sempat nyantol di iklan ”tanya kenapa?”) bernama BANJIR pun enggan meninggalkan lokasi tempat tinggalnya. Mereka merasa lingkungan tersebut telah menjadi bagian dari hidup mereka. Maka, beberapa persiapan pun dilakukan untuk menyambut sang tamu tadi.
Orang berbicara tentang local wisdom; sebuah kearifan penduduk asli setempat yang diilhami oleh keeratan hubungan mereka dengan lingkungan tempat mereka tinggal. Keeratan ini kerap bermanifestasi dalam penjagaan penduduk terhadap kelestarian alam hingga aktivitas ”nyaris” (kalau tidak boleh dikatakan full) animisme mau pun dinamisme dalam bentuk sesajen dan rekan-rekannya. Amplitudo sisi pertama...
Di ujung sisi lain, atas nama ”sebesar-besar kemakmuran rakyat”, pohon-pohon bertransformasi menjadi kayu-kayu gelondongan, sungai-sungai berubah menjadi kecoklatan (memaksa para fuqaha memberi catatan bahwa air sungai Indonesia kemungkinan besar sudah tidak layak dipergunakan untuk ber-wudhu lagi) akibat limbah MNC-MNC yang terkadang hanya memberi ampas bagi warga sekitarnya. Saya memandangnya sebagai sebuah produk apa yang dinamakan kesalahan paradigma pendidikan modern. Pendidikan yang memberi ”hak absolut” bagi penduduk bumi masa kini untuk mengeksploitasi apa yang ada di sekitarnya. Tentu saja tidak semua pendidik dan paradigma pendidikan seperti itu.
Amplitudo adalah rentang terjauh ayunan pendulum; dan dalam kasus apa pun kondisi ekstrem adalah tidak ideal. Namun, polarisasi kepentingan di kedua amplitudo tadi sangatlah mayoritas...

Wallahu’alambishawwab
(26 April 2006)

Labels:

Jalan Kendal, Antroposentrisme dan John Perkins

Seperti biasa pagi ini menyusuri jalan Kendal di belakang stasiun Sudirman selepas dari KRL ekspres. Perjalanan ke tempat kerja biasanya ditempuh 15-20 menit dengan berjalan kaki; jalan santai tentunya…
Ada yang biasa tapi ternyata sekarang mengusik pikiran saya. Kandang-kandang bertumpuk berisikan anjing-anjing kecil (kalau bahasa manusia mungkin batita = bawah tiga tahun). Biasa saja... Tiap pagi juga begitu; anjing2 campuran diperjualbelikan, terutama yang masih kecil-kecil.
Hari ini agak berbeda, kandang paling atas berisi kucing kecil; kucing biasa bukan turunan atau campuran. Hanya saja warnanya cukup bagus, oranye... Lucu juga mukanya..
Barangkali perasaan-perasaan seperti itu yang diharapkan muncul dari pejalan kaki oleh para penjual binatang itu. Perasaan gemas, lucu, dan iba.. Sehingga timbul keinginan membeli. Ya; itu sah-sah saja.. Tidak ada yang salah dalam proses itu. Pembeli, penjual, barang dagangan, terjadi kesepakatan dan DONE! Transaksi terjadi
Tapi coba dilihat dari sisi lain, hewan-hewan kecil yang diperjualbelikan itu dipisah dari induknya pada saat yang amat dini. Ditambah di kandang itu ternyata makanan yang tersedia amat minim (sejauh pengamatan saya).
Antroposentrisme.. Sebuah ideologi yang meyakini bahwa manusia adalah pusat dari segala aktivitas di alam semesta. Semua selain manusia sah-sah diapakan saja asal dapat memenuhi kebutuhan manusia. Segala sesuatunya ada karena bertujuan mendukung kehidupan manusia. Jadilah eksploitasi besar-besaran terhadap alam semesta demi kebutuhan manusia... Bisa dianalogikan dengan kisah jalan Kendal tadi
Andaikata cerita John Perkins benar dalam buku best-seller pengakuan dosanya, maka seluruh sistem pendidikan diarahkan untuk membentuk individu yang hanya memikirkan kepentingan spesiesnya, yaitu manusia. Itu pun hanya segelintir manusia.. Antroposentrisme di atas antroposentrisme....
Kesalahan bukan hanya di tangan para penjual binatang jalan Kendal tadi. Kesalahan juga terletak pada individu2 yang membuat sistem yang mengabaikan kepentingan di luar segelintir manusia. Sistem yang secara masif mengeksploitasi segala sesuatu di luar pembuat sistem demi kepentingan si pembuat sistem dan golongannya.. Bahkan, kesalahan mungkin juga terletak pada mereka yang mendiamkan hal tersebut terjadi di depan mata mereka
--Karena sesungguhnya segala yang berlebihan itu tidaklah baik

Wallahu’alambishawwab
(19 April 2006)

Labels:

Thursday, May 04, 2006

Agama dan Budaya

Saya memahami budaya adalah kebiasaan yang telah diwariskan turun-temurun oleh suatu komunitas. Menjadi luhur karena diyakini luhur berdasar kearifan komunitas tersebut; kearifan yang dihasilkan dari interaksi dengan alam dan interaksi dengan komunitas lain.
Di sisi lain, saya memahami agama sebagai sebuah kesatuan perangkat tuntunan kehidupan bagi manusia. Dihasilkan dari kearifan transendental di luar batas kemampuan manusia.
Menarik mengikuti fenomena yang terjadi akhir-akhir ini…

First quote : Di kebanyakan negara Eropa, sastra telah menjelma menjadi dasar hidup masyarakat; mulai menggeser kedudukan agama.
Second quote: Survey yang beberapa bulan lalu dilakukan di UK menunjukkan hal yang PALING dipercayai sekaligus ditakuti masyarakat bule itu adalah hantu (drakula, zombi, dan segala spesiesnya)
Third quote : Playboy tidak akan memunculkan gambar perempuan telanjang di sini. Kami mengikuti budaya kita (Erwin Ananda, Direktur PT.Velvet Silver Media, pemegang lisensi Playboy Indonesia)

Ketika logika perasaan bermain dalam menentukan benar-salah, maka kebenaran menjadi sangat relatif; bahkan relatif dalam bingkai relung-relung tiap individu. Ketika logika rasio bermain dalam menentukan benar-salah, maka lingkaran kerelatifan membesar. Tapi tetap saja rasio sekelompok komunitas memiliki perbedaan dengan komunitas lain. Lantas parameter benar yang mana yang harus diikuti?
Hmm.. Saya percaya akan kebenaran absolut. Dan kebenaran absolut datangnya bukan dari makhluk yang sering khilaf dan lupa. Ketika kebenaran itu dipaksakan oleh akal dan perasaan, maka selamat datang di dunia roaming....

Wallahu’alambishawwab
(7 April 2006)

Labels:

Memilih Konsep Relasi

Berbicara relasi berarti hubungan timbal balik antara beberapa—minimal dua—pihak. Relasi yang disukai tentunya adalah relasi yang saling menguntungkan; atau dalam bahasa negosiasi : “bagaimana relasi itu senantiasa menghasilkan win-win solution bagi pihak-pihak yang terlibat di dalamnya”.

Relasi KM-ITB dengan rektorat adalah sebuah bentuk relasi unik. Mahasiswa mengetahui bahwa KM-ITB bersifat independen dan berada di luar struktur rektorat. Di sisi lain, rektorat ternyata tidak cukup faham dengan hal itu. Terbukti dari beberapa kebijakan yang senantiasa menempatkan organisasi kemahasiswaan, dalam hal ini KM-ITB, seperti berada di bawah rektorat. Walhasil, mahasiswa berteriak dan melakukan pemberontakan (?). Darah muda yang cenderung didominasi ego membuat mahasiswa melakukan gerakan spontanitas melawan.

Adanya relasi antara dua pihak disebabkan adanya kepentingan yang beririsan. Dalam konteks KM-ITB dan rektorat, tampak jelas kepentingan-kepentingan yang bertautan. Mulai dari kebutuhan hingga target massa. Target massa? Ya jelas, target dari kegiatan-kegiatan KM-ITB adalah mahasiswa ITB. Demikian pula rektorat; dengan jelas menyatakan bahwa mahasiswa adalah konsumen mereka (?). Dalam prinsip konsumen-produsen, konsumen sepakat membeli bila barang yang ditawarkan produsen memiliki kualitas dan harga yang pas. Kebutuhan? Saya memandang keduanya saling membutuhkan. KM-ITB senantiasa membutuhkan rektorat terutama dalam hal-hal yang bersifat akademis. Rektorat pun sama; mereka membutuhkan KM-ITB dalam rangka mendekati konsumen mereka.

Karena tautan kepentingan itu lah, maka relasi KM-ITB dan rektorat adalah sebuah keniscayaan. Lantas pertanyaannya adalah, bagaimana konsep relasi yang saling menguntungkan kedua belah pihak? Tugas KM-ITB berikutnya adalah menginventarisir kepentingan-kepentingan apa saja yang ingin dicapai dalam relasinya dengan rektorat. Batasan-batasan kepentingan harus diperjelas berdasar kewenangan. Kewenangan akademik bukan berada di tangan mahasiswa di sisi lain kewenangan organisasi kemahasiswaan harus dijaga supaya tetap independen. Karena dari independensi itu mahasiswa belajar dan menemukan pendewasaan.

Wallahu’alambishawwab
(6 April 2006)

Labels:

Wednesday, May 03, 2006

Hakikatnya



”Transportasi adalah proses memindahkan orang dari satu titik ke titik lain....”
Prof.Dr.Kusbiantoro (begawan transportasi di planologi ITB)
---------------------------------------------------------------------

”Duh macet benerrr...!”
”Di Jakarte mah tua di jalan yang ada...”
”Naik kereta aja biar cepet! Tapi ati-ati copet...”
Obrolan yang kerap terdengar di ibukota tercinta

Ya! Menengok kembali arti kata transportasi adalah langkah bijak yang harus diambil kota-kota besar Indonesia, di mana kemacetan sudah menjadi ”sarapan” dan ”makan sore menjelang malam”.
Bila menilik dari wejangan Profesor Kus, maka seharusnya orientasi kebijakan di Indonesia adalah pada perbaikan sektor transportasi publik. Sudah lewat zaman di mana jargon Satu Keluarga Satu Mobil yang didengung-dengungkan Ford. Transportasi publik adalah jawaban kongkrit atas permasalahan kemacetan. Transportasi intinya mindahin orang; bukan mindahin mobil.. Gitu aja kok repot!

Namun sayangnya, transportasi publik tidak digarap optimal oleh mayoritas pemerintah kota. Revolusi transportasi yang dilakukan Bang Yos (akhir2 ini kayanya gubernur ini yang jadi favorit saya) belum bisa dikatakan komprehensif. Kebijakan hanya diarahkan pada proyek-proyek mercusuar (TransJakarta, Monorail, Subway).
Sekilas melihat transpotasi pendukungnya : feeder busway (nama keren bus-bus mikrolet, patas, kopaja dan trans-trans kota baru), kereta rel listrik, bajaj, dkk sepertinya masih belum terjamah. Walhasil trayek yang sering diputar-putar, kecelakaan kereta api dan kondisi yang kurang nyaman menjadi permasalahan juga.

Pada akhirnya saya tetap berusaha memelihara prinsip husnudzan; semoga langkah2 mercusuar tadi dapat memberikan dampak turunan bagi sarana-sarana pendukungnya. Dan semoga Jakarta dapat menjadi model kota dengan pelayanan transportasi publik yang baik.

Wallahu’alambishawwab
(6 April 2006)

Labels: